Warning: session_start(): open(/home/palugod/public_html/src/var/sessions/sess_884dcdab0e101dd79574daac846d1436, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/palugod/public_html/src/bootstrap.php on line 59

Warning: session_start(): Failed to read session data: files (path: /home/palugod/public_html/src/var/sessions) in /home/palugod/public_html/src/bootstrap.php on line 59
YLBHI: Militer tak Didesain untuk Urus Pendidikan Sipil, TNI Harus Kembali ke Barak - Suara Dunia

YLBHI: Militer tak Didesain untuk Urus Pendidikan Sipil, TNI Harus Kembali ke Barak

1 day ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
 Militer tak Didesain untuk Urus Pendidikan Sipil, TNI Harus Kembali ke Barak Ilustrasi.(MI)

SETELAH Revisi Undang-Undang (RUU) Nomor 34/2004 tentang TNI disahkan oleh DPR dan Pemerintah, kini militer mulai terlihat memasuki ranah kampus yang dibungkus melalui kerjasama untuk tujuan bela negara. 

Terlihat sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Udayana Bali dan Universitas Jenderal Soedirman Jawa Tengah telah membuka pintunya kepada TNI AD. Hal ini turut menuai kecaman dari masyarakat sipil. 

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur mengatakan fenomena militer yang mulai memasuki ranah kampus merupakan bentuk infiltrasi yang sangat berbahaya untuk kelangsungan iklim akademik.  

“Jelas infiltrasi ini sangat berbahaya karena tentara itu dididik, dilatih, kemudian dipersenjatai untuk berperang, bertempur dan mengurus pertahanan, bukan untuk mengurus pendidikan, apalagi pendidikan sipil di kampus,” kata Isnur kepada Media Indonesia pada Kamis (3/4). 

Menurut Isnur, militer tidak cocok mengelola kampus akademik karena kampus seharusnya menjadi ruang bebas untuk kebebasan berpikir dan akademik, bukan tempat yang dikendalikan oleh militerisme dan hirarki. 

“Jelas sekali ini mengancam kebebasan dan mengancam ruang-ruang akademik karena tentara akan menggunakan pendekatan kekerasannya dan tempurnya, lalu menganggap orang-orang harus ditundukkan, kemudian mengarah kepada yang harus ditundukkan adalah musuh,” jelasnya. 

Militerisme lanjut Isnur, juga cenderung menekankan ketaatan dan disiplin yang dapat menghambat perkembangan nalar kritis dan pemikiran independen di kalangan mahasiswa dan akademisi. Ia meminta agar Militer kembali ke barak. 
 
“Dan ini seperti mengulang sejarah masa lalu, di mana agenda untuk normalisasi kehidupan kampus, jadi kampus dilarang berpikir bebas, kampus dilarang berpikir mengenai demokrasi dan politik,” tutur Isnur. 

Isnur menilai, militerisasi pada ranah perguruan tinggi ini tak hanya bertentangan dengan hakikat UU TNI namun juga mengkerdilkan mandat UU Pendidikan. Selain itu, alasan bela negara yang digunakan militer untuk menjamah kampus menurutnya tidak masuk akal. 

“Ini bertentangan dengan undang-undang pendidikan yang memandatkan kebebasan berpikir, kebebasan akademik, kebebasan untuk menyampaikan segala hal secara terbuka. Dan ini apa hubungannya tentara dengan bela negara? Bela negara itu tidak harus identik dengan tentara, semua orang yang berprestasi akademik secara olahraga, itu semua bela negara,” katanya. 

Oleh karena itu, Isnur menekankan militer tidak perlu mengurusi kampus sebab akademik hanya bisa tumbuh dalam atmosfer egaliter dan dialogis, bukan di bawah bayang-bayang feodalisme kronis dan kultur hirarkis. 

Lebih lanjut, Ia juga menegaskan infiltrasi militer di kampus dapat mengancam demokrasi dan kebebasan berpikir, serta menyeret akademik ke dalam jurang otoritarianisme. 

“Jadi inilah merupakan penyimpangan juga di dunia pendidikan. Ini harus jelas dihentikan, jangan sampai kemudian terulang di masa lalu di mana dui fungsi seperti ini berakibat menyebabkan tidak berhambangas di demokrasi. Ini membahayakan demokrasi kita, membahayakan negara hukum kita,” pungkasnya. (Dev/P-3)  

Read Entire Article