
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menetapkan biaya impor kepada mitra dagang, tanpa terkecuali Indonesia. Itu membuat harga emas dunia melonjak tinggi. Pada pagi Kamis (3/4), harga emas mencapai all time high atau tertinggi dengan 3.180 dolar AS per troy ons.
"Ada kemungkinan besar dalam minggu depan harga emas global sebesar 3.200 dolar AS per troy ons," ujarnya dalam keterangannya, Kamis (3/4).
Pada Rabu (2/4) waktu AS, Trump mengumumkan kebijakan yang disebut Hari Pembebasan, yakni pengenaan tarif dasar 10% untuk impor dari semua negara, yang berlaku mulai 5 April 2025. Namun, negara-negara yang dianggap sebagai pelanggar terburuk karena hambatan perdagangan menghadapi tarif timbal balik yang lebih tinggi mulai Rabu (9/4).
Ibrahim mengatakan selain faktor kebijakan tarif Trump, permasalahan tensi geopolitik yang begitu kencang, terutama di Timur Tengah dan Eropa, serta ultimatum AS kepada Iran untuk bekerja sama dalam masalah reaktor nuklir, membuat harga emas dunia akan melambung semakin tinggi.
Kendati demikian, pengumuman tarif impor baru AS, membuat mata uang rupiah melemah dan diperkirakan anjlok hingga ke level Rp17.000 per dolar AS. Indonesia tak luput menjadi korban perang dagang AS dengan dikenakan tarif impor 32%.
"Ada kemungkinan besar rupiah akan pecah telor di angka Rp17.000 per dolar AS. Ini harus hati-hati," tegas Ibrahim.
Selanjutnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga diramalkan akan melemah dengan penurunan 2%-3% dalam perdagangan minggu depan akibat perang dagang tersebut.
"Dampak perang dagang ini cukup luar biasa, apalagi Indonesia masuk daftar biaya ekspor AS yang tinggi," katanya.
Untuk menyiasati masalah tersebut, pemerintah Indonesia diminta sigap mencari pasar baru untuk menjaga suplai barang ekspor di pasar global. Salah satunya dengan memanfaatkan pasar kelompok negara yang terdiri dari Brazil, Rusia, India, Tiongkok dan Afrika Selatan (South Africa) atau BRICS.
"Kita harus Ingat Indonesia adalah negara anggota BRICS. Sehingga, yang tadinya ekspor barang-barang ke AS yang mengalami surplus bisa dialihkan ke pasar BRICS. Hal ini untuk menjaga suplai barang," pungkas Ibrahim. (H-4)