Warga Palestina menghadiri protes mendesak dihentikannya perang di Beit Lahiya, Jalur Gaza utara, Rabu, 26 Maret 2025.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dua demonstrasi yang pecah di jalur Gaza pada pekan ini mendapat perhatian lebih dari media barat, terutama karena menyuarakan protes terhadap Hamas. Unjuk rasa ini digambarkan sebagai gerakan Palestina organik terhadap yang mengkritik kekuasaan pemerintahan di dalam wilayah yang dikepung.
Jurnalis senior dan pembuat film dokumenter yang fokus terhadap permasalahan Palestina, Robert Inlakesh, menyuarakan pendapatnya terhadap framing tersebut, melalui artikelnya di Palestine Chronicle yang berjudul Beyond The Headlines: What Lies behind the Anti-Hamas Protests in Gaza pada 28 Maret 2025.
Pada Selasa, serangkaian protes kecil dimulai terhadap perang di Gaza, yang terjadi di wilayah utara, yang paling menonjol terjadi di Beit Lahia. Beberapa poster bertuliskan "Hamas Out." Belasan demonstran lain terekam meneriakkan hal yang sama, sementara yang lain mengangkat poster yang menyerukan diakhirinya perang. Keesokan harinya, para pemimpin lokal juga menyerukan protes di daerah lain di seluruh Gaza, yang semuanya mengecam elemen anti-Hamas.
Hari pertama protes memang menampilkan elemen anti-Hamas yang jelas. Meski demikian, jumlahnya sangat kecil dengan minimnya dukungan dari rakyat. Hal ini tercermin dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh tokoh masyarakat di Beit Lahia yang mengecam segala upaya untuk menyerang perlawanan Palestina, yang berarti Hamas dalam kasus ini. Namun, tiba-tiba, media Israel, selain media yang didanai negara Saudi, Al-Hadath dan Al-Arabiyya, mulai meliput protes tersebut seolah-olah pemberontakan anti-Hamas sedang terjadi di Jalur Gaza.
Tidak lama kemudian Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan ikut campur untuk mendorong protes yang berkelanjutan, karena pejabat dari Otoritas Palestina (PA) juga melakukan hal yang sama.
Setelah berbagai seruan untuk protes, yang didorong oleh PA dan Israel, keesokan harinya ada beberapa ratus orang yang memutuskan untuk muncul dan menyuarakan ketidaksukaan mereka terhadap Hamas. Meskipun skala demonstrasi tersebut kecil, media korporat Barat dan segelintir influencer Palestina di internet berhasil membuatnya tampak seolah-olah demonstrasi ini adalah keinginan mayoritas di Jalur Gaza.