REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov ikut bereaksi akan ancaman yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Republik Islam Iran.
Moskow mengecam ancaman Washington untuk menggunakan kekerasan terhadap Teheran sebagai hal yang tidak pantas, kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov dalam sebuah wawancara dengan majalah The International Affairs yang dikutip laman IRNA.
"Memang, ancaman telah didengar, dan juga ultimatum. Kami memandang metode tersebut sebagai hal yang tidak pantas, dan kami mengecamnya karena kami melihat ini sebagai cara untuk memaksakan kehendak [AS] terhadap Iran," jelas Ryabkov.
Ancaman terbaru Donald Trump dinilai berisiko untuk memperburuk situasi dan menyebabkan dampak yang akan membutuhkan lebih banyak upaya untuk mencegah bahaya. Ancaman tersebut dinilai menambah ketegangan lainnya bahkan meningkatkan eskalasi dari konflik yang meletus di Timur Tengah. "Dan kami mengusulkan jalur alternatif," kata diplomat senior Rusia tersebut.
Pemerintah Iran sebelumnya telah mengecam ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan militer terhadap negara itu. Iran bahkan memperingatkan Washington tentang konsekuensi dari setiap agresi.
Trump mengatakan pada Ahad (30/3/2025), dia akan memerintahkan serangan militer terhadap Iran jika Teheran tidak membuat kesepakatan baru dengan Washington mengenai program nuklirnya."Jika mereka tidak membuat kesepakatan, akan ada pengeboman," katanya dalam sebuah wawancara dengan NBC News.